Apakah malaria itu?

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium, yang secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.

 

Apakah penyebab malaria itu?

Penyebab malaria adalah protozoa dari genus Plasmodium. Terdapat lima spesies Plasmodium yang dapat menyebabkan malaria pada manusia yaitu :

  • Plasmodium falciparum (menimbulkan malaria falsiparum atau tropikana)
  • Plasmodium vivax (menimbulkan malaria vivax atau tertiana)
  • Plasmodium ovale (menimbulkan malaria ovale)
  • Plasmodium malariae (menimbulkan malaria malariae atau kuartana)
  • Plasmodium knowlesi

 

Bagaimana siklus hidup malaria itu?

Parasit malaria memerlukan dua inang untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan nyamuk Anopheles betina.

 

Siklus Hidup Malaria

 

  • Siklus hidup pada manusia

Pada waktu nyamuk Anopheles yang mengandung parasit (sporozoit) menghisap darah manusia,  sporozoit yang berada di kelenjar liur nyamuk akan masuk kedalam peredaran darah selama lebih kurang ½ jam. Setelah itu sporozoit akan masuk ke sel hati dan menjadi tropozoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000-30.000 merozoit hati (tergantung spesiesnya).

Siklus ini disebut siklus ekso-eritrositer yang berlangsung selama lebih kurang 2 minggu. Pada P. vivax dan P. ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan kekambuhan (relapse). Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit, tergantung spesiesnya). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi (skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus ini disebut siklus eritrositer. Setelah 2-3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit menginfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual (gametosit jantan dan betina).

2.Siklus hidup pada nyamuk Anopheles betina

Apabila nyamuk anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit, di dalam tubuh nyamuk, gamet jantan dan betina melakukan pembuahan menjadi zigot. Zigot berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Pada dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit.  Sporozoit ini bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia.

 

Bagaimana proses yang terjadi pada tubuh manusia ketika parasit malaria masuk ke dalam tubuh itu?

Nyamuk Anopheles menggigit manusia

            Parasit malaria dalam bentuk sporozoit masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Segera setelah inokulasinya ke dalam darah, sporozoit masuk ke dalam hepatosit. Sporozoit di dalam hepatosit berkembang menjadi schizont praeritrositik (eksoeritrositik) dalam waktu 5-15 hari tergantung dari spesies Plasmodium-nya. Plasmodium ovale dan vivax memiliki tahap dorman yang disebut hypnozoite yang dapat tinggal di hepar selama berminggu-minggu sampai beberapa tahun sebelum berkembang menjadi schizont praeritrositik. Hal ini dapat menimbulkan kekambuhan (relapse) pada infeksi malaria. Sebaliknya, Plasmodium falciparum dan malariae tidak memiliki tahap persisten tersebut. Suatu schizont praeritrositik mengandung 10.000-30.000 merozoit yang dilepaskan ke dalam sirkulasi dan menginvasi eritrosit. Di dalam eritrosit, merozoit berkembang melalui beberapa tahap, yaitu bentuk cincin, trofozoit, dan schizont eritrositik. Parasit tersebut mampu mengubah atau memodifikasi sel inang dengan beberapa cara untuk meningkatkan daya hidupnya. Selanjutnya eritrosit yang mengandung schizont tersebut pecah dan melepaskan merozoit yang baru terbentuk untuk menginvasi eritrosit yang baru. Invasi tersebut dipengaruhi oleh interaksi reseptor spesifik pada membran eritrosit dan beberapa ligan pada permukaan merozoit. Sebagian kecil dari merozoit tersebut berdiferensiasi menjadi bentuk seksualnya, yaitu makrogametosit (betina) dan mikrogametosit (jantan). Faktor yang memicu terjadinya diferensiasi tersebut sampai dewasa ini belum diketahui dengan tepat. Gametosit tersebut selanjutnya diisap oleh nyamuk Anopheles dan menjadi makrogamet dan mikrogamet di dalam usus nyamuk. Mikrogamet akan bergerak cepat membuahi makrogamet dan membentuk zigot yang dalam waktu 18-24 jam berubah menjadi ookinet yang motil. Setelah menembus dinding epitel dari dinding usus nyamuk, ookinet berubah menjadi oocyst dan 10-24 jam setelah infeksi, ribuan sporozoit dilepaskan ke dalam hemocoel dan sporozoit yang motil masuk ke dalam epitel kelenjar ludah nyamuk. Selanjutnya siklus akan terulang lagi.

            Pada saat nyamuk Anopheles menggigit manusia, keluarlah sporozoit dan masuk ke dalam darah dan jaringan hati. Parasit malaria akan mempengaruhi sel limfosit T-CD4+ kemudian mensekresi IL-3 dan meningkatkan aktivasi makrofag. Selain itu, limfosit T-CD4 juga mensekresi sitokin proinflamasi yaitu IL-1, IL-6, TNF. Pada infeksi malaria, TNF kadar rendah mempunyai kemampuan proteksi yaitu menghambat aktivitas parasit, baik dalam stadium hati maupun darah. Pada kadar tinggi mempunyai sifat patologis yaitu mengganggu diseritrophoesis dan eritrophagositosis sehingga terjadi anemia, meningkatkan sitoadherensi parasit eritrosit pada endotel vaskuler sehingga terjadi malaria serebral, dan bersama-sama sitokin lain mencetuskan timbulnya gejala lain seperti sakit kepala, demam, menggigil, mialgia, nausea, trombositopenia, dan edema paru.

  • Demam terjadi saat sporulasi dan kerusakan eritrosit, diduga akibat bahan pirogen yang keluar dari eritrosit yang mengalami sporulasi dan kerusakan tersebut.
  • Anemia pada malaria falsiparum lebih hebat dibandingkan malaria lainnya karena Plasmodium falciparum menyerang eritrosit dari semua umur. Plasmodium vivax dan ovale menyerang eritrosit muda dan Plasmodium malariae menyerang eritrosit yang sudah tua.
  • Aglutinasi eritrosit intravaskuler terjadi akibat perubahan sifat eritrosit yang mengandung parasit (mudah melekat satu sama lain) dan meningkatnya viskositas darah akibat meningkatnya permeabilitas dinding kapiler.
  • Anoksia sel, jaringan, dan organ tubuh terjadi akibat anemia dan aglutinasi eritrosit intravaskuler.
  • Ikterus terjadi akibat hemolisis eritrosit intravaskuler.
  • Hepatosplenomegali terjadi akibat hipertrofi sel RES di dalamnya akibat meningkatnya fagositosis eritrosit, baik yang mengandung parasit maupun eritrosit yang telah berubah sifatnya akibat proses imunologi.

 

Apakah gejala klinis yang timbul jika menderita malaria?

Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam. Masa inkubasi dan serangan demam bervariasi tergantung spesies Plasmodium.

Masa inkubasi dan serangan demam tiap spesies Plasmodium pada malaria

Pada masa prodromal gejala tidak khas : menggigil, demam, nyeri kepala, nyeri otot (terutama punggung), nafsu makan menurun, dan cepat lelah.

Gejala khas yaitu serangan berulang paroksismal dari rangkaian gejala menggigil-demam-berkeringat disusul dengan periode rekonvalesensi.

Pada Plasmodium vivax, serangan demam terjadi tiap hari ketiga (malaria tertiana), Plasmodium falciparum kurang dari 48 jam (malaria tropika/ subtertiana), dan Plasmodium malariae tiap 72 jam (malaria kuartana).

Gejala-gejala lain adalah ikterus, anemia, hepatomegali, splenomegali, hipotensi postural, urobilinuria, dan kadang-kadang diare.

 

Bagaimana cara mendiagnosis malaria?

Diagnosis klinis diperoleh dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Anamnesis :

  • Penderita baru bepergian ke daerah endemis malaria
  • Adanya rangkaian gejala menggigil, demam tinggi, berkeringat banyak, diikuti stadium sembuh. Gejala tersebut bersifat paroksismal. Urine seperti teh, nyeri kepala, dan nyeri otot (terutama otot punggung), nafsu makan menurun.

Pemeriksaan fisik : anemia, ikterus, hepatomegali, splenomegali.

Diagnosis laboratorik untuk mendeteksi parasit malaria dengan cara :

  • Pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan Giemsa

         1. Sediaan darah tebal (thick smear)

Sediaan Darah Tetes Tebal (Thick Smear) Malaria

         2.Sediaan darah tipis (thin smear)

Sediaan Darah Tetes Tipis (Thin Smear) Malaria

 

Sel darah merah pada penderita malaria yang terinfeksi Plasmodium falciparum dilihat dengan mikroskop pada sediaan darah tetes tipis (thin smear)

 

  • Antigen detection menggunakan metode imunokromatografi (ICT) → Rapid Diagnostic Test (RDT)

 

 

Rapid Test Malaria

 

  • Pemeriksaan dengan mikroskop fluorescens – Quantitative Buffy Coat (QBC) da pewarnaan Acridine Orange (AO)

Pemeriksaan parasit malaria dengan mikroskop fluorescens

 

  • Polimerase Chain Reaction (PCR)

 

Semoga penjelasan di atas bermanfaat ya..